03Jun/14

Agama Para Rasul – Ust Fadhel Ahmad

Bisa anda simak dan download kajian yang disampaikan oleh Ust Fadhel Ahmad dalam pembahasan “Makna Islam (Agama Para Rasul)” kajian ini disiarkan secara langsung di studio Radio Tazkiyah pada hari selasa 3 Juni 2014 pukul 16.15 wib. 

Asy Syaikh Al Imam Muhammad At Tamimy dalam kitab beliau, Ushul Tsalatsah Berkata: “Islam yaitu berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanya (mengesakan) Nya dan tunduk melakukan ketaatan serta menjauhi perbuatan syirik dan pelakunya”.

Islam dipahami dalam dua makna, 1). Islam dalam arti umum, itulah semua agama para Nabi dan Rasul. 2). Islam dalam arti khusus, itulah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Islam Dalam Arti Umum

Islam dalam arti umum adalah agama seluruh para Nabi dan Rasul.

Islam dalam arti umum inilah makna yang disebutkan oleh Imam Muhammad At Tamimy diatas.

Dari definisi yang dikemukakan diatas diketahui bahwa islam itu adalah makna yang terkandung didalamnya tiga hal.

1. Tauhid, sebagaimana ungkapan beliau: “Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan cara mentauhidkanya”.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). QS An Nahl : 36.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). QS Al-A’raf : 59

2. Kesediaan untuk tunduk terhadap ketentuan-ketentuan/aturan-aturan Allah, sebagaimana ungkapan beliau: “Tunduk/mengikatkan diri dengan mentaatinya”.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. QS Al Ahzab : 36

3. Berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan, sebagaimana dalam ungkapan beliau: “Berlepas diri dari kesyirikan dan berlepas diri dari pelakunya”. dengan cara:

  • Meyakini batil (salah) nya perbuatan syirik dan menjauh dari perbuatan tersebut.
  • Meyakini wajibnya memusuhi kaum musyrikin, tidak menjadikan mereka kawan dekat, demikian juga tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atas kaum muslimin.
  • Meyakini wajibnya membenci mereka.
  • Tidak membantu mereka dan tidak berpartisipasi dalam urusan agama mereka.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. QS Al-Mumtahanah : 4

DR Shalih Al Fauzan berkata: “Engkau tidak dianggap seorang muslim sampai bersifat dengan sifat-sifat seperti ini. Mentauhidkan Allah, Tunduk terhadap aturan Allah dengan mentaatinya, berlepas diri dari kesyirikan dan berlepas diri dari pelaku kesyirikan. Dengan mengumpulkan sifat-sifat ini maka engkau adalah seorang muslim, sementara apabila kurang satu saja, maka engkau tidak dianggap sebagai seorang muslim”. (Syarah Ushul Tsalatsah karya Syaikh DR Shalih Al Fauzan hal. 158-159 Cet. Dar Furqon Kairo Mesir)

Islam Dalam Arti Khusus

Islam dalam arti khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Siapa yang tidak beriman dengan islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, sekalipun ia mengaku beriman kepada agama nabi-nabi sebelum beliau maka ia tidak termasuk seorang muslim.

Rasulullah SAW Bersabda

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya (Demi Allah), tidaklah ada seorang pun di kalangan umat manusia ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang (risalah kenabian)ku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus dengannya (risalah agama Islam), kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Simak dan Download Kajian Makna Islam – Ust Fadhel Ahmad

27Mei/14

Memahami Kewajiban Memberi Nafkah Dalam Islam – Ust Masduqi

Bisa anda simak dan download kajian yang disampaikan oleh Ust Masduqi dalam pembahasan “Memahami Kewajiban Memberi Nafkah Dalam Islam” kajian ini disiarkan secara langsung di studio Radio Tazkiyah pada hari selasa 27 mei 2014 pukul 16.15 wib. 

Secara bahasa nafkah artinya  sesuatu yang dibelanjakan sehingga habis tidak tersisa. Sementara itu secara istilah syari’at artinya mencukupi kebutuhan siapapun yang di tanggungnya, baik berupa makanan, minuman, pakaian, atau tempat tinggal.

Kewajiban Memberi Nafkah

Kewajiban menafkahi sebab pernikahan.

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma´ruf”. (Al-Baqarah : 228)

Kewajiban menafkahi sebab hubungan kerabat.

وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin:. (At-Talaq : 6)

Selengkapnya Bisa Anda Simak Dan Download Kajiannya.

13Mei/14

Menjalin Keluarga Bahagia Islami – Ust Ahmad Mustaqim Lc

Bisa Anda Download Kajian Menjalin Keluarga Bahagia Islami yang di sampaikan oleh Ust Ahmad Mustaqim Lc yang live pada 13 mei 2014 pukul 16.00 WIB di Studio Radio Tazkiyah.

Agama islam sangat menjaga kehormatan manusia maka dari itu Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang masih sendirian segera menikah untuk melangsungkan kehidupan dan menjaga kehormatan manusia berdasarkan firman Allah SWT:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An-Nuur 24:32)

Hadits Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam,

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaqun Alaihi.

Selengkapnya bisa anda simak dan download Kajian rekaman Menjalin Keluarga Bahagia Islami yang disampaikan oleh Ust Ahmad Mustaqim Lc

Simak dan Download Kajian Menjalin Keluarga Bahagia Islami – Ust Ahmad Mustaqim Lc